Tragedi Tambang Emas Way Umpu: Tutur Tewas Tertimbun Tanah Saat “Ngejek”, PETI Alat Berat Disorot
WAY KANAN – beraninews.
Belum selesai kasus per Kara penambangan liar diproses secara hukum diselesaikan , kini kasus penambangan liar yang sengaja dibiarkan APH menakan korban jiwa 1 orang meninggal dunia Karena tertimpa Tanah saat Menambang di sungai way Umpu Blambang Umpu.
Dunia pencarian emas di sepanjang aliran Way Umpu, Way Kanan, kembali berduka. Seorang warga bernama Tutur, yang dikenal sehari-hari sebagai tukang tambal ban yang ramah dan baik hati, meninggal dunia setelah tertimpa material tanah saat mencari emas di pinggir Sungai Way Umpu, Minggu sekitar pukul 14.00 WIB.
Tutur diketahui tinggal di kawasan Km 4, Kelurahan Blambangan Umpu. Dalam aktivitas mencari emas tersebut, almarhum disebut menggunakan mesin sederhana dengan metode yang oleh para penambang setempat dikenal dengan istilah “ngejek”. Saat kejadian, Tutur ditemani oleh istri pertamanya.
Kabar duka tersebut sontak mengejutkan masyarakat, khususnya warga yang selama ini melakukan aktivitas pencarian emas di sepanjang aliran Way Umpu.
Almarhum dikenal masyarakat sekitar sebagai tukang tambal ban. Di balik kesehariannya tersebut, Tutur disebut merupakan warga Kampung Gunung Sangkaran dan meninggalkan keluarga serta lima orang anak.
Lurah Blambangan Umpu, Malik, membenarkan adanya peristiwa tersebut.
Menurut Malik, peristiwa nahas itu terjadi sekitar pukul 14.00 WIB ketika almarhum sedang melakukan aktivitas pencarian emas dengan metode “ngejek” bersama istrinya.
“Almarhum memang dikenal sebagai tukang tambal ban oleh masyarakat yang tinggal di Km 4 Kelurahan Blambangan Umpu. Namun aslinya Tutur merupakan warga Kampung Gunung Sangkaran,” ujar Malik.
Malik menyampaikan duka cita atas meninggalnya Tutur sekaligus mengimbau masyarakat yang masih melakukan aktivitas pencarian emas di sepanjang Way Umpu agar meningkatkan kewaspadaan.
“Kami turut berduka atas meninggalnya Tutur. Kami mengimbau warga yang mencari emas di sepanjang Way Umpu agar berhati-hati sehingga tidak ada lagi korban,” pesannya.
Satu Nyawa Melayang, PETI Alat Berat Ikut Disorot
Tragedi Tutur kembali membuka persoalan yang lebih besar di kawasan Way Umpu.
Di tengah kabar duka tersebut, masyarakat juga menyoroti aktivitas pertambangan yang diduga menggunakan alat berat excavator di sejumlah lokasi.
Keberadaan alat berat untuk menggali dan mengeruk tanah dinilai berpotensi menimbulkan persoalan baru, terutama terhadap kondisi lahan dan lingkungan apabila aktivitas tersebut tidak sesuai dengan ketentuan perizinan.
Pertanyaannya kini bukan hanya siapa yang bertanggung jawab atas keselamatan para pencari emas, tetapi juga sampai kapan aktivitas pertambangan yang diduga menggunakan excavator tersebut dibiarkan?
Masyarakat berharap aparat penegak hukum (APH) dan instansi terkait turun langsung ke lapangan untuk memeriksa aktivitas pertambangan di sepanjang Way Umpu.
Jika memiliki izin, masyarakat tentu meminta kejelasan mengenai legalitas dan pengelolaan lingkungannya.
Namun jika ditemukan aktivitas pertambangan tanpa izin (PETI), masyarakat berharap dilakukan penertiban sesuai aturan.
Jangan sampai Tutur menjadi korban terakhir.
Jangan pula tanah yang seharusnya dapat dimanfaatkan masyarakat untuk berkebun berubah menjadi lubang-lubang galian yang menyisakan persoalan bagi generasi berikutnya.
Satu nyawa telah pergi. Kini yang ditunggu masyarakat adalah tindakan nyata—bukan sekadar imbauan. (**)

Posting Komentar